merangkai pelangi

sebuah coretan kecil menuju mimpi

Kapan Nikah??

November4

Alkisah seorang pemuda dihingapi gelisah saat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian deras mendera. Puasa dan beraktivitas positif telah dilakukannya, tetapi justru aktivitasnya mempertemukan dia dengan si Jilbab biru yang menawan. Maka kepada ayahanda dan ibunda dikuatkannya hatinya untuk berkata, ‘Pak..Bu.. boleh nggak saya nikah sekarang?’

Tentu saja ada empat mata yang membelalak di ruang tamu keluarga selepas Isya’ hari itu. ‘Heh..ngomong apa kamu? Nikah! Gundhulmu!’

Kepalanya menunduk.

‘Mbok ya sadar to le.. ‘ Kali ini terdengar lebih lembut. Sang ibu. ‘Kamu itu kuliah masih semester berapa?! Nikah saat kuliah memangnya anak istrimu mau dikasih makan apa? Dipikirkan yang dalam yo le.. jangan bicarakan masalah nikah lagi sebelum kamu lulus!’

‘Tapi banyak godaan bu..’

‘Puasa..puasa..! katanya belajar agama gitu aja gak ngerti.’

‘Sudah Pak.. Sudah..’, sang ibu menengahi. Lalu ditinggalkan dia sendiri, tergugu.. wajahnya panas..matanya berkaca-kaca.

Beberapa semester berlalu, dan esok hari adalah wisuda yang dinanti-nanti. Maka mala mini adalah saatnya bicara, begitu sang pemuda bergumam, ‘Pak, saya sudah lulus.. tentang pernikahan..?’

‘Eh..lulus itu artinya kamu pengangguran baru!’

‘Iya nak.. kamu berkonsentrasi dulu cari kerja ya..’

Dan ia tak berkata-kata lagi. Harapan yang berkecambah telah tersiram air panas.

Waktu berganti. Dan kini pekerjaan sudah dalam genggaman. ‘Pak.. Bu.. Emm.. saya kan sudah kerja sekarang.’

‘Kerja apa.. serabutan gitu..! gak nyambung dengan kuliah kamu! Dengar.. bapak mau bicara baik-baik..kamu cari pekerjaan yang mapan dulu, baru kita bicara pernikahan.’

Pucuk daun pun pupus, hangus terbakar matahari.

Tetapi Allah Maha Kuasa. Beberapa waktu berjalan, pekerjaan di sebuah instansi bergengsi pun didapat. Berseri-seriwajah pemuda itu menghadap, ‘Pak.. saya sudah bekerja seperti harapan Bapak..’

‘Lah..kamu itu berangkat kerja saja masih pakai motor yang bapak beliin. Nanti ngomongin nikahnya kalau kamu sudah punya mobil..’

Dan beberapa waktu kemudian . ‘Pak..Bu. saya sudah punya mobil..’

‘Tapi nanti kamu mau tinggal dimana le? Coba ya.. kamu usahakan dulu punya rumah..’ kali ini sang Ibunda yang lembut hati. Yang ia merasa hilang daya dan lumer sumsum kalau beliau sudah bicara. Ia menyerah lagi.

Hingga suatu hari..’Pak..Bu.. rumah sudah jadi!!! Jadi kapan saya dinikahkan?’

Bapak dan Ibu saling berpandangan.. dan mereka menangis.. ‘Aduh le.. umurmu sudah 55..siapa yang mau?’

Kisah humor yang cukup menggelitik yang saya dapat dari bukunya Salim A. Fillah ‘Jalan Cinta Para Pejuang’. Beliau berucap, ini bukan meminta anda menjadi penentang orang tua, bukan soal patuh atau membangkang. Masalahnya adalah pada kemandirian kita. Bangunlah ia sejak dini, agar kita memiliki kuasa atas pilihan-pilihan kita sendiri. Sebab jika tidak, pilihan-pilihan yang dikendalikan orang lain, pihak lain, atau kekuatan lain akan menyurukan kita pada kesulitan-kesulitan tak berkesudahan. Ketika tak ada rasa memiliki pada pilihan sendiri, kita jadi terseret arus, terbawa gelombang, dan kita tak mampu melawan hingga tersempyak-sempyak ke batu karang. Mulailah dari visi yang jelas, masa depan yang terencana, kedewasaan, dan keberanian bersikap.

Dari Salim A. Fillah ‘Jalan Cinta Para Pejuang’

(dengan sedikit penyesuaian)

Lihatlah lebih dekat, Renungkan lebih dalam..

November4

Ketika kita melihat teman-teman yang telah sukses dalam studinya, sidang kelulusan sudah dia lewati, lulus dalam waktu cepat, sudah mapan dengan pekerjaan barunya, sedang kita sendiri masih bertahan di labolatorium jurusan dengan gelas piala, tabung reaksi, sentrifuse, evaporator dan teman-temannya. Atau yang masih sibuk bolak-balik perpustakaan, mengobrak-abrik setiap sisi rak buku mencari-cari referensi yang kadang kayaknya kok ‘invisible’ padahal tertulis jelas di skripsi kakak kelas.  Ada yang lumayan sudah sampai ngebahas, dari pagi sampai malam di depan laptop sampai matanya kayak mata panda, woaahhh…

Miris terkadang rasanya.. memulai perjuangan di bangku kuliah bersama tepat 4 tahun yang lalu, menjejakkan kaki pertama di kota hujan dengan wajah yang masih amat sangat lugu.. juga barengan.. satu bus malah! Bareng ayah masing-masing yang mengantar kita ke sebuah gedung ‘sakral’.. Graha Widya Wisuda… dimana kami memulai dan dimana kami akan mengakhiri perjuangan.

Terkadang sempat terpikir, ‘perjuangan kami sepertinya sama.. aku juga telah berusaha maksimal.. tapi.. kenapa?!’

Pikiran-pikiran konyol dan egois serta sedikit ke arah sombong itu kadang muncul.. (hehe..). Tapi tak bisa dipungkiri ketika semua bercampur baur.. ingat ayah ibu yang telah bertahun-tahun membiayai pendidikan kita, dan berharap kita bisa segera ‘mentas’ dari fase ini dan bisa MANDIRI.., rasa takut yang tiba-tiba menyeruak.. bagaimana kalo kita tak bisa membanggakan keduanya.. atau sekedar sedikit membahagiakan mereka? Bahkan apakah kita telah membuat mereka kecewa?? Haru biru dan tetesan air mata hanya bisa menjawab.. inilah fase kritis di mana aku sempet ‘down’… yah.. setegar apapun batu karang ada masanya rapuh juga..

Tapi itu tidak lama.. hanya selingan melankolis saja.. (hahaha.. pembelaan ku..^_^)

‘Janganlah kau bersedih coz everything gonna be OK..’ kata Bondan ^^

Yupz.. ngapain juga harus jatuh semangat hanya Karena hal kecil. Kita udah dewasa.. bisa memikirkan sesuatu lebih bijaksana..

Kata Sherina kecil juga, ‘Lihat segalanya.. lebih dekat dan kau akan mengerti..’

Betul sher.. I really lke this words..^^

Kan apa-apa yang menurut kamu baik belum tentu baik menurut Allah, jadi percaya aja kalo semua sudah diatur dengan sangat baik. Semua ada waktunya sendiri-sendiri, dan rencana Allah untuk kita adalah rencana terbaik!

‘dunia pasti berputar, keringat pasti bertukar..’ ngambil nukilan lirik ST12 nih..

Semua yang terjadi di sekitar kita harusnya bisa menjadi lecutan semangat! Bukan membuat kita menjadi semakin pengecut! Atau takut!

Kata Bondan lagi… ’Usaplah keringat yang mengalir membasahi keningmu, angkat ke atas dagumu yang tertunduk malu, jangan menyerah, jangan mengalah,

Bangunlah bangkitkan semangat juangmu hingga membara

Yakinkan pastikan inilah puncak segalanya

Berbanggalah karena kau adalah SANG JUARA!!

Jadi.. sekarang buat apa bersedih hati atau merasa orang ter-Malang di dunia.., mending ter-Klaten..kan jadi bersinar (hehe.. narsis kota sendiri yg mottonya Klaten Bersinar).

Keputusanmulah untuk TERUS BERJUANG! Untuk TERUS MAJU KE DEPAN! Karena MENYERAH BERARTI KALAH!!.. Karena MUNDUR BERARTI HANCUR!!

Lovely room, October 17th, 2010

posted under renungan | No Comments »

mulai melangkah lagi..

November4

wow.. blog baru ku sudah jadi, akhirnya bikin blog juga, dengan bangga inilag yulaikay06.student.ipb.ac!!!

semoga menjadi langkah awal untuk bisa memberikan tulisan-tulisan kecil yang bermanfaat.. ^^

posted under sapaan | No Comments »